Sabtu, 15 November 2014

Pengertian Realisme Sosialis

Posted by Junaidi 15.16, under , | No comments

Realisme sosialis adalah salah satu paham/aliran sastra yang cukup kuat mendominasi di Eropa Barat khususnya ketika rezim sosialis menempati posisi kekuasaan. Aliran ini cukup mempunyai konstribusi yang besar terhadap kasanah sastra dunia. Namun hingga kini banyak orang yang kurang suka membicarakannya.Hal ini punya alasan yang cukup kuat mengingat kebanyakan para sastrawan masih banyak yang berpaham netral dan anti partisan terhadap segala macam bentuk kekuasaan. Lebih-lebih ketika realisme sosialis pernah mengalami sejarah buruk ketika berada dalam genggaman kekuasaan Stalin di rusia selama beberapa dekade.
Realisme sosialis –dan sastra lain yang berbau politis dan memihak—kemudian sering direduksi sedemikian rupa sehingga tidak lagi dipandang sebagai gagasan kreativitas yang humanis. Hal ini tidak terjadi di Eropa saja melainkan di Indonesiadimana para seniman realisme sosialis seperti Pramudya Ananta Toer dkk memang pernah terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang punya masalah historis. Agar reduksi yang menjerus pada sikap subyektifisme/sentimen berlebihan ini bisa jernih maka perlulah kiranya di telaah lebih mendasar dan ilmiah tanpa perlu berprasangka buruk terhadap aliran ini.
Akar filosofis
Seperti halnya ajaran pemikiran lain, aliran realisme ini mempunyai persoalan historis dalam konsepsi dasarnya. Ia menjadi antitesis dari paham idealisme yang hanya cukup mendasarkan diri pada persoalan idea. Dalam tataran filosofis, Obyek yang di pandang paham idealisme hanya ada dalam akal budi maka sebaliknya kaum realis berpandangan bahwa obyek presepsi inderawi dan pengertian sungguh-sungguh ada ada terlepas dari indra dan budi yang menangkapnya.
Alasan yang paling menonjol dalam hal ini adalah bahwasanya obyek itu dapat diselidiki, dianalisis, dipelajari lewat ilmu, dan ditemukan hakikatnya lewat filsafat. Secara bahasa realis ini bertitik tolak dari kata latin yang mempunyai arti sungguh-sungguh, nyata benar adanya. Sebagai aliran etis realisme ini mengakui adanya faktor etis yang dialami, entah itu berkaitan dengan hidup, perilaku, dan perbuatan konkret, terlepas dari indra dan budi yang mengerti. (A. Mangunhardjana,1997).
Selaras dengan pendirianya tentang yang ada, dalam prinsip etis dan mengejar cita-cita etis, realisme menyesuaikan dengan hidup nyata. Artinya ia menolak paham yang hanya berpegang pada prinsip etis dengan alasan tidak mungkin dilaksanakan (tidak realistis) Dalam setiap melaksanakan prinsip dan cita-cita etisnya paham ini selalu memperhitungkan semua faktor; situasi, kondisi, keadaan, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan orang-orang yang terlibat.
Kalau kita tengok lebih jauh pada dasarnya kemunculan aliran ini bukan berdiri sendiri. Ia terkait dengan konsepsi dasar filosofis materialisme dialektik dan materialisme historis (marxisme) yang digagas oleh Karl Marx dan Fedrik Engels. Walaupun orang seperti Pramudya mengaku tidak pernah belajar Marxis, namun berbagai karya sastra baik dalam bentuk novel, cerpen maupun romannya membuktikan keterkaitan tersebut. Apa sebenarnya dasar filosofi Marxis yang mempengaruhi sastra ini?
Pertanyaan ini adalah suatu pertanyaan mendasar berkaitan dasar teoritik marxisme dalam segala bidang. Dalam meninjau hubungan struktur masyarakat Marx berpandangan bahwa ada dua strata sosial yang ada dalam setiap zaman, yakni basis-struktur (struktur dasar) dan supra-struktur (struktur atas). Dalam hal ini filsafat marxis menempatkan ekonomi sebagai struktur yang secara urgen mempengaruhi bidang-bidang lain dalam bidang suprastruktur seperti, pemikiran, politik, agama, dan kebudayaan. Seluruh komponen suprastruktur berubah atau tidaknya akan sangat di tentukan dari dari corak produksi ekonomi sebuah masyarakat.
Dalam hal ini sastra menurut marxisme juga menempati bagian supra-struktur. Seni (sastra) merupakan bagian dari ideologi(kesadaran) masyarakat—satu elemen dalam struktur persepsi sosial yang amat rumit yang meyakinkan bahwa situasi dimana satu kelas sosial memeiliki kekuasaan terhadap kelas-kelas lainnya yang juga dilihat oleh sebagian besar anggota masyarakat sebagai suatu yang “alamiah” atau tidak terlihat sama sekali. Memahami sastra berarti pemahaman terhadap seluruh proses sosial di mana sastra merupakan bagiannya.(Terri Eagleton 1979).
Georgy Plekanov mengatakan; ” mentalitas sosial suatu jaman dikondisikan oleh hubungan-hubungan sosial pada masa itu. Sekarang hal itu cukup sebagai bukti sebagaimana dalam sejarah seni dan kesustraan.(Henri Arvon, 1970) Karya-karya sastra bagi marxisme bukanlah sesuatu yang terinspirasi secara misterius, atau sederhananya dipandang dalam istilah psikologi pengarangnya. Karya tersebut menurut Eagliton dipandang adalah bentuk persepsi-persepsi, cara khusus dalam memandang dunia; dan juga memiliki relasi dengan cara memandang realitas yang menjadi mentalitas atau ideologi sosial suatu zaman. Sebaliknya ideologi tersebut adalah suatu produk dari hubungan sosial yang konkrit yang kedalamnya manusia memasuki ruang dan waktu tertentu; ideologi adalah cara hubungan-hubungan kelas yang dialami, dilegitimasi dan diabaikan. Terlebih lagi manusia tidaklah bebas memilih hubungan sosial mereka, mereka dipaksa memasuki hubungan sosial itu karena keharusan material—yang disandarkan oleh sifat dan tingkat perkembangan model produksi ekonomi mereka.
Aliran ini dulunya hanya bersifat sederhana dan terbatas dalam lingkungan sastrawan yang bersinggungan dengan pemikiran marxis. Namun ketika ajaran marxis mampu menampilkan dirinya menjadi sebuah ideologi dan dipraksiskan oleh V.I Lenin menjadi partai revolusioner klas pekerja yang berideologi sosialisme, dan mempunyai banyak pengikut sastrawan beraliran realis, maka banyak orang menyebutnya menjadi realisme-sosialisme. Aliran ini lahir pertama kali di Rusia atas prakarsa beberapa sastrawan partai Bolshevik, antara lain, Maxim Gorki yang kemudian dikenal sebagai bapak pendirinya.
Pandangan awalnya ia mempunyai gagasan bahwa ‘the people must know their history” (manusia harus mengenali sejarah dirinya sendiri) dan “musuh yang tak mau menyerah harus dimusnahkan”.(Kurniawan Eka 1999). Slogan ini ternyata cukup memberikan pengaruh pada perkembangan realisme sosialis di kemudian hari.
Garis Visioner
Teori filosofis diatas ternyata tak mudah dipahami begitu saja oleh para
sastrawan baik yang pro maupun yang kontra. Disatu sisi ia sering dianggap
menempatkan sastra menjadi tidak penting dalam diskursus perubahan di lain pihak dianggap terlalu memaksa seniman untuk terus berkiblat pada doktrin yang kurang lebih ekonomistik. Selain itu bagi penganut realisme sosialis sendiri juga
sering mengalami kegagalan dalam membentuk karekteristik sastra yang utuh. Hal ini tak lain dan tak bukan disebabkan oleh ketidak lengkapan pemikiran Karl Marx dan Engels yang memang tidak pernah secara utuh dan baku menjelaskan rumusan teoritik estetikanya.
Namun setidaknya sastra realisme rosialis pernah punya rumusan yang cukup valid. Apa yang di ungkapkan oleh Fokkema D.W dan Elrud Kunne-Ilsch dalam buku Teori Sastra Abad Keduapuluh (Gramedia;1998) setidaknya mengambarkan rumusan konkret tersebut. Mereka berdua menuliskan kriteria dalam tiga dasar pokok: 1) kriteria penafsiran determinisme ekonomi yang menyangkut pertanyaan apakah karya sastra mengambarkan perkembangan-perkembangan lebih maju atau lebih mundur berdasarkan
ekonomi;2)kriteria probabilitas kebenaran yang sepenuhnya sesuai dengan kode sastra pada zamannya; dan 3) kriteria (selera) pribadi, misalnya tulisan-tulisan Aeschylus, Shakespeare dan Goethe, yang termasuk daftar kesustraan pada
zamannya. Secara general realisme sosialis menginginkan keharmonisan antara kenyataan dan idea. Kenyataan harus di nyatakan sebagai mana adanya, menurut proposisi aslinya, sementara idea harus di sandarkan pada konteks kondisi obyektif. Hal yang paling prinsipil dari semuanya adalah semangat ideologi terhadap perjuangan klas bagi kaum tertindas (proletariat). Kenyataan ini dapat dilihat dari berbagai pemikiran realisme sosialis Mulai dari Maxim Gorki, Lu Hsun, George Lukacs, bahkan sampai Pramudya Ananta Toer.
Sastra realisme sosialis bisa dianggap sebagai sastranya rakyat jembel, kaum pekerja(buruh, tani dan nelayan) yang hadir untuk ikut terlibat berjuang melawan segala sesuatu yang menindas terutama sistem kapitalisme yang secara nyata menghisap kaum pekerja.( Kurniawan Eka, 1999). Ia harus menjadi aspeks gerakan partisan terhadap partai revolusioner. V. I. Lenin, sang pemimpin revolusi Rusia 1917 mengatakan;” Sastra haruslah menjadi roda penggerak dan baling-baling dari sebuah mesin besar sosial demokrasi”. Kenetralan tulisan dianggap oleh Lenin sebagai sesuatu yang mustahil, “kebebasan penulis borjuis (klas menegah) hanyalah ditopengi oleh ketergantungan terhadap sekantong uang!…begitu juga dengan penulis-penulis non partisan. Apa yang dibutuhkan adalah sastra yang luas, bentuk yang beragam dan tidak terpisah dari gerakan klas pekerja (kaum buruh dan tani).
Karena persoalan komitmen dan keberpihakan inilah yang kemudian sering dikatakan oleh berbagai macam sastrawan idealis-borjuistik dengan klaim bahwa sastra marxis lebih mengutamakan visi politik (kepentinganya) dari pada mengutamakan netralitas dan kebebasan ekspresinya. Realisme sosialis yang paling dominan memang tidak mengelak dari persoalan ini. Aturan garis ini memang terkesan menjurus dalam satu format ideologi kepentingan partai.
Kebebasan ekspresi bagi seniman seolah-oleh menjadi terengut didalamnya. Benarkah demikian halnya? Leon Trotsky, arsitek terpenting revolusi Rusia setelah lenin memberikan jawaban pada pertanyaan ini. Ia melihat bahwa wilayah budaya (baca; sastra dan seni) bukanlah suatu tempat dimana partai terpanggil untuk memerintah, tapi bukan berarti memilih mentoleransi karya-karya yang menentang revolusi. Sebuah kewaspadaan revolusioner haruslah disatukan dengan kebijakan yang luas dan fleksibel dalam ilmu-ilmu sastra. (Issac Detscher, 1959)
Sastra bagi partai sosialis haruslah “realis”, tapi dalam pengertian umum yang tak sempit, karena kaum realis sendiri pada hakekatnya tidaklah revolusioner dan reaksioner. Realisme sebetulnya adalah “sebuah filsafat hidup” yang tidak seharusnya dibatasi menjadi teknik-teknik suatu sekolah khusus. Trotsky memandang bahwa bentuk-bentuk artistik sebagai hasil dari “muatan” sosial, tapi pada saat yang sama dia menganggapnya berasal dari sebuah tingkatan tinggi otonomi.(literature and evolution in Soviet1917-62). Pendek kata dari seluruh rangkaian teoritik diatas seni tidak bisa dinilai dan dihakimi dari parameter yang lain seperti politik, sosial, eksak, melainkan hanya melalui hukumnya seni itu sendiri.
Urgensi bagi Indonesia
Di atas telah dijelaskan akar dan garis visi serta komitmen keberpihakan sebuah sastra. Relevansi persoalan filosofis dan visi seni (sastra) di negara kita terhadap aliran kiri ini belumlah banyak di kaji oleh para sastrawan. Sastrawan kita lebih banyak yang sering mengkritik aliran ini secara vulgar tanpa pertimbangan basis teoritik yang memadai. Jikalau-pun ada yang berkeinginanmempraktekkan aliran ini di negara kita, kendala-kendala yang muncul tentulah tidak sedikit. Selain dari halangan yang muncul dari pihak luar yang berupa intrik, teror dan sikap sinis terhadap aliran ini, di kalangan penganutnya-pun sering terjadi kontradiksi yang menjurus pada sikap-sikap ideologis.
Diluar itu sebenarnya masyarakat kita membutuhkan aliran ini sebagai pelengkap keragaman yang telah ada. Terlebih-lebih bila dikaitkan dengan situasi makro –dimana rakyat Indonesia membutuhkan komponen perubahan transformasi sosial—maka realisme sosialis rasanya penting di jadikan elan revolusioner bagi aktivis gerakan akar bawah yang menginginkan tegaknya keadilan dan demokrasi.***
Terpaksa saya inget2 lagi. Tapi gak inget *nyengir*. Akhirnya minta tolong Bang Wiki sama Om Google en ngandelin ingetan saya yang lebih parah dari ingatan nini pelet.
Manikebu (julukan orang Lekra buat Manifes Kebudayaan yg digawangi oleh HB Jassin) sama Realisme Sosial-nya Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) itu musuhan karna ya, beda ideologi. Trus, buat org2 Manifes, Lekra tu mempolitisir karya seni. Sebenernya kalo prinsip dasar sih hampir sama. Mereka sama2 punya keinginan “menyempurnakan kondisi hidup manusia” dengan karya seni. Tapi Lekra yang mendahulukan pemajuan kebudayaan rakyat demi “pembebasan kaum tertindas: buruh dan tani” dilihat sebagai upaya politisasi gerak kebudayaan sama Manifes Kebudayaan. Dan ini mengancam prinsip2 estetika en “menjerumuskan karya seni pada alat propaganda politik yg sarat slogan verbal”. Begitu katanya Oom Wikipedia.
Mbah Pram dulu itu kan megang halaman sastra (rubrik Lentera) di Koran Bintang Timur. Koran ini markasnya LEKRA lah, sekaligus pendukung berat PKI. Nah, Manifes Kebudayaan dulu porosnya Mbah HB Jassin yang pegang Majalah Sastra. Mreka (manikebu) gak setuju lah kl sastra itu memihak partai tertentu. Pengennya universal. Seni cuma untuk kemanusiaan. Non-partisan. Ya wis , ‘berantem’ lah gara2 itu.
Realisme sosial itu intinya, sastra untuk rakyat gitu. Realisme sosialis, menurut kubu Lekra, meletakkan “kenyataan dan kebenaran” yang lahir dari “pertentangan-pertentangan yang berlaku di dalam masyarakat maupun di dalam hati manusia” sebagai dasar material kesenian. Dari situ, akan terlihat sejumlah gerak maju dan “hari depan” manusia. Dengan demikian, berlaku kesimpulan bahwa “seni untuk rakyat”.
Di Indonesia, realisme sosialis dikembangkan oleh Lekra atas dasar keberpihakan kepada rakyat daripada atas logika marxisme. Kedekatan realisme sosialis dengan marxisme terletak pada semangat, kesamaan perjuangan, dan pilihan hidup. Tidak terbukti bahwa hubungan keduanya merupakan hubungan organisatoris meskipun banyak anggota Lekra juga anggota PKI (h.20 buku “Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis“).
Gosipnya, jaman komunis masih jaya dulu Mbah Pram dan Lekra doyan mbakari buku2 dari pihak yang gak seide sama dia. Tapi pas ORDE BARU, gentian buku2 berhaluan “kiri” yang dibakari. Peh… sayang banget ya, padahal buku2 itu kan wawasan semua isinya. Jadi inget buku2 karya ilmuwan Islam yang dibakari pasca penaklukan jaman dahoeloe kala….
Kl menurut saya sbenernya gak perlu bakar2an buku en karya sastra begitu. Biarin aja buku2 en pikiran pengarangnya itu lepas ke dunia. Pembaca kan gak goblog2 amat. Masa iya sih ada orang yang baca satu buku, begitu terpengaruhnya, sampe gak percaya lagi sama kenyataan en apa yang benar2 terjadi? Buku2 itu memang sumber wawasan en pengetahuan tapi kita kan gak berhenti sampe di sana aja. Kita kan punya otak dan wajan pemikiran sendiri buat mengolah en milah2 mana yang sesuai sama prinsip kita mana yang enggak. Jangan sampe kita baca buku (yang notabene taik2 pikiran orang), trus nelen mentah2 semua taik orang yang kita baca.
p.s. sebenernya saya ndak terlalu ngerti sama ini. saya cuma seneng baca buku2ne Pramoedya. tapi gak pernah ngorek2 ideologi yg dianutnya. en this is so fu*king heavy for my tiny brain. oh Tuhan tolonglah… tunjukkan jalaaaann… pada dirikuuuu…. (tau lagu Nike Ardilla inih ga seeh? huehehe… ketauan dah umur gw brapa…)
…Banyak ngambil serabutan dari wikipedia n  ekakurniawan.com
Pemdapat
Pramoedya Ananta Toer ituh salah satu pengarang besar Indonesia. Karya nya yang paling terkenal adalah tetralogi pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) yang ditulisnya waktu dia lg di pengasingan di Pulau Buru. Kenapa Mbah Pram diasingkan? Konon katanya, si Mbah dan tulisan2nya itu subversif en banyak mengkritik pemerintah Orde Baru. Jadilah Mbah Pram yang suka bergiat di koran Bintang Timur (pendukungnya PKI) ini di asingkan…
Buku2nya mbah Pram almarhum, sudah banyak banget yang diterjemahkan ke banyak banget juga bahasa di seluruh dunia, contohnya Inggris, Belanda, Jerman, Russia dll.
Kalo kurang jelas, tanya aja ke guru bahasa indonesia ato guru sejarah ya…


Minggu, 02 November 2014

LOMBA BLOG : Bojonegoro Sehat, Produktif dan Bahagia

Posted by Junaidi 22.50, under | No comments

Dalam rangka Hari Blogger Nasional ke 7 dan Hari jadi bojonegoro ke 337. Dinas komunikasi dan Informatika Kabupaten Bojonegoro bekerjasama dengan Komunitas Blogger Bojonegoro menyelenggarakan lomba nge-Blog dengan tema “BOJONEGORO SEHAT, PRODUKTIF, DAN BAHAGIA”. Cakupan Temanya Antara lain:
  1. “LINGKUNGAN BERSINAR (Bersih, Indah, Sehat & Rapi)”
  2. “DESA SEHAT DAN CERDAS”
  3. “WONG JONEGORO SEHAT PRODUKTIF DAN BAHAGIA”
PERSYARATANNYA:
  • Pendaftaran lomba gratis
  • Bebas menggunakan blog engine apa saja (wordpress, blogspot, blogdetik, dan sebagainya), baik domain berbayar maupun yang gratis.
  • Tidak menggunakan blog komunitas / Instansi
  • Tulisan merupakan hasil karya individual, bukan jiplakan atau copy paste dari tulisan orang lain.
  • Belum pernah dipublikasikan sebelumnya.
  • Tulisan menggunakan bahasa indonesia santai-sopan.
  • Artikel tidak mengandung SARA.
  • Artikel harus disertai foto sesuai tema yang dibahas.
  • Penggunaan istilah-istilah lokal (bahasa jonegoro) diperbolehkan selama itu diperlukan sebagai bahan referensi. Penting menggunakan istilah seperlunya, dan bila perlu dapat mencantumkan arti dalam bahasa indonesia.
  • Boleh mengirimkan lebih dari satu postingan.
  • Tulisan harus sesuai dengan cakupan tema yang telah ditentukan (pilih salah satu).
  • Peserta wajib memasang banner lomba di bawah ini pada widget atau di dalam postingan sebagai tanda keikutsertaan lomba blog (menyusul).
LANGKAH – LANGKAH PENDAFTARAN
  • Buatlah postingan yang akan diikutkan lomba.
  • Pastikan anda sudah mematuhi SEMUA persyaratan lomba.
  • Harus sudah mengirimkan link URL dari tulisan yang diposting (BUKAN TULISAN HALAMAN DEPAN BLOG) melalui formulir online yang tersedia. FORMULIR ONLINE KLIK DISINI
SISTEM PENILAIAN
  • Kesesuaian terhadap persyaratan
  • Orisinalitas Ide
  • Isi Postingan akurat (Data Valid)
  • Struktur Tulisan
  • Tata Letak atau Layout
  • Kualitas dan kuantitas komentar pembaca pada setiap artikel akan menjadi nilai tambah
  • Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
PERIODE LOMBA
  • Periode Lomba 28 Oktober – 2 Desember 2014
  • Periode Penjurian 3 Desember – 6 Desember 2014
  • Pengumuman pemenang 7 Desember 2014
Pemenang akan diumumkan pada tanggal 7 Desember 2014 di www.bloggerbojonegoro.com dan www.kanalbojonegoro.com dan Pemenang akan dihubungi panitia.
HADIAH
Akan dipilih 3 (tiga) Pemenang Lomba yang akan mendapatkan masing-masing :
  • JUARA 1 : Uang Tunai Rp 1.000.000, Piagam dan Trophy
  • JUARA 2 : Uang Tunai Rp 750.000 , Piagam dan Trophy
  • JUARA 3 : Uang Tunai Rp 500.000 , Piagam dan Trophy
SEKERTARIAT LOMBA
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bojonegoro Jl.Jendral Ahmad Yani 04 Bojonegoro.
Telepon: (0353) 881454 (Ibu Yuyun)
CP : 085731303020 (Dedexz) / 085731488663 (Fadly)
Email: info@bloggerbojonegoro.com
Web : www.bloggerbojonegoro.com

AYO IKUT WUJUDKAN BOJONEGORO SEHAT, PRODUKTIF DAN BAHAGIA
Kegiatan Lomba ini diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bojonegoro bekerjasama dengan Komunitas Blogger Bojonegoro

Sabtu, 11 Januari 2014

Interaksi Zat Besi, Asam Folat dan Seng

Posted by Junaidi 19.43, under | No comments



Status dan manipulasi terhadap satu atau lebih zat gizimikro dalam tubuh akan mempengaruhi metabolism zat gizimikro lainnya (Watts, 1997).  Zat gizimikro yang mungkin berinteraksi dengan besi dalam fungsinya pada sintesis hemoglobin cukup banyak antara lain adalah asam folat, vitamin B¬12, vitamin A, vitamin C, seng dan tembaga (Ronnenberg, 2000).

Interaksi besi dan folat adalah peranan folat pada metabolism asam nukleat. Pada defisiensi folat akan menyebabkan gangguan pematangan inti eritrosit yang pada gilirannya akan menyebabkan gangguan dalam replikasi DNA dan proses pembelahan sel. Keadaan ini akan mempengaruhi kinerja sel tubuh termasuk sel yang berperan dalam sintesis hemoglobin (Mc Laren, 2002)

Defisiensi folat akan menyebabkan gangguan metabolism DNA dan bila berkelanjutan akan menyebabkan kerusakan DNA dan gangguan ekspresi gen (Choi, 2000)
Dari sisi pandang eritopoisis, defisiensi folat akan menyebabkan gangguan pematangan eritrosit, yang menyebabkan munculnya sel darah merah dengan bentuk dan ukuran yang abnormal. Kondisi ini disebut anemia megaloblastik. Keadaan ini akan mempengaruhi kinerja seluruh sel tubuh termasuk sel yang berperan dalam pembentukan hemoglobin. Biasanya defisiensi folat seiring dengan defisiensi besi. Pada populasi defisiensi besi rendah maka prevalensi defisiensi folat juga rendah (Monge, 2001).

Peranan asam folat dalam proses sintesis nukleo protein merupakan kunci pembentukan dan produksi butir-butir darah merah normal dalam susunan tulang. Kerja asam folat tersebut banyak berhubungan dengan kerja dari vitamin B12 (Winarno, 1997). Folat diperlukan dalam berbagai reaksi biokimia dalam tubuh yang melibatkan pemindahan satu unit karbon dalam interkonversi asam amino misalnya konversi homosistein menjadi metionin da serin menjadi glisin atau pada sintesis prekusor DNA purin (Hoffbrand, 2005).

Asam folat berperan sebagai koenzim dalam transportasi pecahan-pecahan karbon tunggal dalam metabolisme asam amino dan sintesis asam nukleat. Bentuk koenzim ini adalah tetrahidrofolat (THF) atau asam tetrahidrofolat (THFA) THFA beperan dalam sintesis purin-purin guanin dan adenin serta pirimidin timin, yaitu senyawa yang digunakan dalam pembentukan DNA dan RNA. THFA berperan dalam saling mengubah antara serin dan glisin, oksidasi glisin, metilasi hemosistein menjadi metionin dengan vitamin B12 sebagai kofaktor dan metilasi prekusor etanolamin menjadi vitamin kolin. Asam folat dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah dan sel darah putih dalam sumsum tulang dan untuk pendewasaannya. Asam folat berperan sebagai pembawa karbon tunggal dalam pembentukan hem. Vitamin B12 diperlukan untuk mengubah folat menjadi bentuk aktif dan dalam fungsi normal metabolisme semua sel, terutama sel-sel saluran cerna, sumsum tulang, dan jaringan saraf (Almatsier, 2008).

Seng merupakan trace element yang paling banyak terdapat dalam tubuh manusia selain besi. Interaksi antara seng dan besi telah dibuktikan oleh sejumlah penelitian pada hewan percobaan dan manusia. Besi menghambat absorpsi Zn manakala keduanya diberikan dalam bentuk anorganik (Lonnerdal, 1998).
Interaksi Zn dengan besi pertama kali terjadi di usus. Zn berkompetisi dengan besi untuk dapat diserap di usus. Bila Zn lebih banyak jumlahnya maka Zn akan diserap lebih banyak dibanding Fe. Setelah diserap di usus, besi dan Zn akan dibawa oleh transferin ke darah, jaringan, hati, dan sebagainya. Dalam keadaan normal transferin akan membawa besi kurang dari 50%. Pada kasus kelebihan besi, transferin akan mengikat lebih dari 50% besi yang akan mengakibatkan tempat ikatan untuk Zn tinggal sedikit, sehingga Zn tidak bisa dibawa oleh transferin. Disamping itu asupan berlebihan salah satu atau kombinasi trace element dapat menimbulkan defisiensi besi dan akhirnya anemia (Watts, 1997).

Pemberian Zn dalam jangka lama dapat menyebabkan defisiensi tembaga, dimana tembaga mempengaruhi aktivitas peroksidase yang akan menghambat eritropoesis dan akhirnya menimbulkan anemia (Lonnerdal, 1998)
Jika status Zn rendah, sintesa dari RBP (Retinol Binding Protein) terganggu/berkurang. RBP ini berfungsi membawa vitamin A dari cadangan ke jaringan yang membutuhkan. Selain itu, Zn merupakan co-factor¬ dari enzim asam amino levulinic dehidratase untuk sintesis transferin. Transferin berfungsi untuk membawa besi yang berasal dari makanan yang diserap usus, dibawa oleh darah kemudian didistribusikan ke sum-sum tulang dan jaringan yang membutuhkan.
Interaksi antara besi dan seng berlangsung secara tidak langsung, peran seng dalam sintesi protein transferin yaitu protein pengangkut besi, serta karena defisiensi seng juga menurunkan sistem kekebalan dan dapat mengganggu metabolism besi (Nixon, 2000)

Hemoglobin tersusun atas molekul porfirin besi, protein dan globin. Molekul porfirin (C¬20H14N4) tersusun atas 4 molekul pirol. Molekul porifin dengan bantuan enzyme heme sintetase atau ferrochelatase aka mengikat molekul Fe2+ untuk selanjutnya membentuk heme. Molekul protein globin merupakan molekul tetramer yang terdiri atas 4 subunit, dimana tiap subunit terdiri atas rantai polipeptida. Dua rantai mempunyai struktur yang identik yaitu α dan 2 rantai indentik lainnya adalah β.
Pemberian besi dalam bentuk anorganik akan menurunkan konsentrasi Zn serum (O’Brien, 1999). Pemberian Zn dalam bentuk anorganik akan menurunkan konsentrasi serum feritin. Zn dalam bentuk senyawa anorganik dapat menghambat penyerapan besi dalam bentuk senyawa anorganik (Yadrick, 1989). 

Pemberian Zn dalam bentuk anorganik dan Fe dalam bentuk organik nyata tidak mempengaruhi penyerapan Zn. Begitu sebaliknya, pemberian Zn dalam bentuk organik dan Fe dalam bentuk anorganik nyata tidak mempengaruhi penyerapan Zn (Solomons, 1981).
Adanya ligan dalam makanan penyerapan Zn tidak dipengaruhi oleh konsentrasi besi. Besi dan Zn tidak berkompetisi untuk mendapatkan tempat ikatan transferin pada permukaan usus, karena Zn diserap kemudian diikat oleh albumin (Lonnerdal, 1998).

ZAT BESI PADA IBU HAMIL

Posted by Junaidi 19.28, under | No comments



Besi adalah salah satu unsure terbanyak dalam lapisan kulit bumi, tetapi defisiensi besi adalah penyebab anemia tersering, yang menngenai sekitar 500 juta orang diseluruh dunia. Hal ini terjadi karena tubuh mempunyai kemampuan yang terbatas untuk mengabsorpsi besi dan seringkali tubuh mengalami kehilangan besi yang berlebihan akibat pendarahan (Hoffbrand, 2005).

Besi merupakan unsur mikro (trace element) yang berperan penting dalam proses metabolisme tubuh. Besi berperan dalam tubuh pada proses respirasi seluler. Besi merupakan komponen hemoglobin, myoglobin,dan cytochrome, terdapat juga pada enzim katalase dan peroksidase. Didalam semua komponen tersebut besi sebagai porphyrin. Besi yang tersisa didalam tubuh berikatan dengan protein, sebagai protein penyimpan (ferritin dan hemosiderin) dan bentuk transport (transferin). Senyawa yang mengandung besi bagi tubuh berperan dalam: pengangkutan (carrier) O2 dan CO2, pembentukkan sel darah merah, sebagai katalisator pembentukkan betakaroten menjadi vitamin A, sintesis collagen, sintesis DNA, detoksifikasi zat racun pada hepar, transport elektron pada mitokondria, dan proliferasi dan aktivasi dari sel T, sel B dan sel NK (Sudarmadji, 1996).

Zat besi dalam tubuh manusia erat dengan ketersediaan jumlah darah yang diperlukan. Dalam tubuh manusia zat besi memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan dan mengangkut elektron di dalam proses pembentukan energi di dalam sel ( Garrow, 1993).

Besi terdapat dalam berbagai jaringan dalam tubuh berupa: (1) senyawa besi fungsional, yaitu besi yang membentuk senyawa yang berfungsi dalam tubuh; (2) besi cadangan, senyawa besi yang dipersiapkan bila masukan besi berkurang; (3) besi transport, besi yang berikatan dengan protein tertentu dalam fungsinya untuk mengangkut besi dari satu kompartemen ke kompartemen lain (Sudoyo, 2006).

Besi dalam makanan terdapat dua bentuk, yaitu besi heme dan besi non heme. Besi heme terdapat dalam makanan yang berasal dari hewan seperti dalam daging dan ikan. Tingkat absorpsinya tinggi, tidak dihambat oleh bahan penghambat sehingga mempunyai bioavailabilitas tinggi. Sedangkan besi non heme terdapat dalam sayuran, biji-bijian dan buah-buahan. Tingkat absorpsinya rendah rendah, dipengaruhi oleh bahan pemacu atau bahan penghambat sehingga bioavailabilitasnya rendah (Tranggana, 2009; Sudoyo, 2006).

Sebagian besar besi dalam diet (88%) berupa besi non heme dan terutama terdiri atas garam besi dan besi non heme dibebaskan dari ikatan organik di dalam lambung (Litwin, 1998).


Jumlah besi dalam kompartemen tubuh yaitu dalam bentuk transferin 3-4 mg, hemoglobin dalam sel darah merah 2500 mg, dalam bentuk mioglobin dan berbagai enzim 300 mg, disimpan dalam bentuk feritin dan dalam bentuk hemosiderin 1000 mg. Tidak ada jalur fisiologis untuk pengeluaran Fe dari tubuh, sehingga absorbsi diatur secara ketat melalui duodenum proksimal. Pada keadaan normal tubuh akan kehilangan 1 mg besi per hari dan akan digantikan melalui absorpsi (Sudarmadji, 1996)
Pertukaran besi dalam tubuh merupakan lingkaran tertutup yang diatur oleh besarnya besi yang diserap usus, sedangkan kehilangan besi fisiologis bersifat tetap. Besi yang diserap usus setiap hari berkisar antara 1-2 mg, ekskresi besi terjadi dalam jumlah yang sama melalui deskuamasi sel epitel usus. Besi dari usus dalam bentuk transferin akan bergabung dengan besi yang dimobilisasi dari makrofag dalam sumsum tulang sebesar 22 mg untuk dapat memenuhi kebutuhan eritropoiesis sebanyak 24 mg per hari. Eritrosit yang beredar secara efektif di sirkulasi membutuhkan 17 mg besi, sedangkan besi sebesar 7 mg akan dikembalikan di makrofag karena terjadinya eritropoiesis non efektif (hemolisis intramedular). Besi yang terdapat pada eritrosit yang beredar juga akan dikembalikan ke makrofag setelah mengalami proses penuaan, yaitu sebesar 17 mg (Setiabudy, 2011).

Transportasi dan penyimpanan besi terutama diperantarai oleh tiga protein – transferin, reseptor transferin dan feritin. Transferin mengangkut besi ke jaringan yang mempunyai reseptor transferin, khususnya eritroblas dalam sumsum tulang, yang menggabungkan besi menjadi hemoglobin. Sebagian besi disimpan dalam sel retikuloendotel sebagai feritin dan hemosiderin. Kadar feritin dan reseptor transferin (TfR) berkaitan dengan status besi sehingga kelebihan besi menyebabkan terjadinya peningkatan feritin jaringan dan penurunan TfR, sedangkan pada defisiensi besi feritin rendah dan TfR meningkat (Hoofbrand, 2005)

Tubuh mendapatkan masukan besi yang berasal dari makanan. Untuk memasukkan besi dari usus ke dalam tubuh diperlukan proses absorpsi. Absorpsi besi paling banyak terjadi pada bagian proksimal duodenum. Proses absorpsi besi dibagi menjadi 3 fase (Gropper, 2009) :

1.      Fase luminal besi pada makanan diolah di lambung lalu siap diserap di duodenum.
2.      Fase mukosal  proses penyerapan dalam mukosa usus yang merupakan proses aktif.
3.      Fase korporeal  meliputi proses transportasi besi dalam sirkulasi, utilisasi besi oleh sel-sel yang memerlukan, dan penyimpanan besi oleh tubuh.
Absorbsi besi akan meningkatkan bila dikomsumsi bersama dengan asam Askorbat (vitamin C ) yang banyak terdapat pada buah-buahan tertentu. Faktor penghambat absorbsi besi diantaranya adalah pytat, besi berikatan pada senyawa fenolik (kopi, teh, sayuran tertentu, bumbu tertentu), magnesium dan kalsium ( misalnya dalam susu dan keju).

Dalam diet sebagai besi heme (Fe3+) yang berasal dari hewani dan besi non heme (Fe2+) yang berasal dari nabati. Besi diabsorbsi dalam bentuk Fe2+, reduksi Fe3+ menjadi Fe2+ oleh enzim ferireduktase. Enterosit di duodenum proksimal berperan dalam absorbsi Fe. Besi diangkut dalam tubuh adalah dalam bentuk transferin. Konsentrasi Transferin dalam plasma sekitar 300 mg/dL.
Absorpsi besi dipengaruhi oleh 2 faktor utama :
Ø    Regulator kebutuhan besi (Hepcidin)
Hepsidin merupakan pengatur besi dalam tubuh, di mana molekul ini akan meningkat saat terjadi inflamasi melalui pelepasan IL-6 dari makrofag. Adanya hepsidin menyebabkan menurunnya pelepasan besi dari makrofag. Hepsidin pada enterosit dapat menghambat kerja ferroportin, sehingga absorbsi besi untuk dibawa ke hati berkurang (Setyabudy, 2011)

Ø  Regulator Hematopoesis
Kalau ada hipoksia jaringan yang akan dimonitor oleh ginjal. Sebagai respons ginjal akan mengeluarkan hormon eritropoetin untuk merangsang eritropoesis dalam sumsum tulang. Regulator ini lebih penting dari regulator pentimpanan, namun demikian regulator penyimpanan memegang peran yang cukup penting dalam mgatur kebutuhan besi yang meningkat dan dalam mencegah kelebihan besi (Tranggana, 2009)

ANEMIA PADA IBU HAMIL

Posted by Junaidi 19.14, under | No comments

Ibu hamil merupakan salah satu kelompok penderita anemia. Angka anemia ibu hamil tetap saja masih tinggi meskipun sudah dilakukan pemeriksaan kehamilan dan pelayanan kesehatan. Berdasarkan data SKRT tahun 1995 dan 2001, anemia pada ibu hamil sempat mengalami penurunan dari 50,9% menjadi 40,1% (Amiruddin, 2007).

Angka kejadian anemia di Indonesia semakin tinggi dikarenakan penanganan anemia dilakukan ketika ibu hamil bukan dimulai sebelum kehamilan. Berdasarkan profil kesehatan tahun 2010 didapatkan data bahwa cakupan pelayanan K4 meningkat dari 80,26% (tahun 2007) menjadi 86,04% (tahun 2008), namun cakupan pemberian tablet Fe kepada ibu hamil menurun dari 66,03% (tahun 2007) menjadi 48,14% (tahun 2008) (Depkes, 2008).

Menurut WHO (1972), anemia pada kehamilan terjadi jika kadar hemoglobin kurang dari 11 mg/dL (Basu,2010). Sedangkan menurut CDC (1998), anemia terjadi pada ibu hamil trimester 1 dan 3 jika kadar hemoglobin kurang dari 11 mg/dL sedangkan pada ibu hamil trimester 2 jika kadar Hb kurang dari 10,5 mg/dL (Lee,2004).

Anemia adalah kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk sintesis eritrosit, terutama besi, vitamin B12, asam folat. Selebihnya merupakan akibat dari berbagai kondisi seperti pendarahan, kelainan genetik penyakit kronik atau keracunan. Pada kehamilan, tubuh kekurangan beberapa zat gizi maka akan terjadi anemia (Hoffbrand, 2005). Anemia sebagai akibat kekurangan gizi disebut anemia gizi, yang sebagian besar disebabkan kekurangan besi yang lazim disebut anemia gizi besi (Narins, 1992).

Berdasarkan klasifikasi dari WHO kadar hemoglobin pada ibu hamil dapat di bagi menjadi 4 kategori yaitu ; Hb > 11 gr%Tidak anemia (normal), Hb 9-10 gr% Anemia ringan, Hb 7-8 gr% Anemia sedang dan Hb <7 gr% Anemia berat.

kehamilan menyebabkan terjadinya peningkatan volume plasma sekitar 30%, eritrosit meningkat sebesar 18% dan hemoglobin bertambah 19%. Peningkatan tersebut terjadi mulai minggu ke-10 kehamilan. Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa bertambahnya volume plasma lebih besar daripada sel darah  pertengahan kehamilan dan meningkat kembali pada akhir kehamilan.(Hoffbrand, 2005)

Pengenceran darah (hemodilusi) pada ibu hamil sering terjadi dengan peningkatan volume plasma 30%-40%, peningkatan sel darah 18%-30% dan hemoglobin 19%. Secara fisiologis hemodilusi untuk membantu meringankan kerja jantung.

Hemodulusi terjadi sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan 32-36 minggu. Bila hemoglobin ibu sebelum hamil berkisar 11 gr% maka dengan terjadinya hemodilusi akan mengakibatkan anemia hamil fisiologis dan Hb ibu akan menjadi 9,5-10 gr%.

Saat hamil diperlukan hingga 600 mg besi untuk meningkatkan massa eritrosit dan 300 mg lagi untuk janin. Walaupun absorpsi meningkat hanya sedikit wanita yang terhindar dari kekurangan cadangan besi yang parah pada akhir kehamilan.(Hoffbrand, 2005)

Kehamilan merupakan kondisi yang banyak menghabiskan cadangan besi pada wanita usia subur, pada tiap kehamilan seorang ibu kehilangan rata-rata 680 mg besi, jumlah ini ekuivalen dengan 1300 ml darah (Bothwell, 2000). Di daerah katulistiwa besi lebih banyak keluar melalui keringat, sedangkan masuknya besi yang dianjurkan setiap harinya untuk wanita hamil 17 mg. untuk memenuhi kebutuhan meningkatnya volume darah selama kehamilan, ibu hamil membutuhkan tambahan 450 mg besi (Wiknyosastro, 1999).

Pada awal kehamilan ferritin serum mengalami kenaikan ringan. Hal ini dimungkinkan karena turunnya aktivitas eritropoetik sehingga besi dialihkan ke cadangan. Tetapi setelah itu konsentrasi ferritin serum turun sampai 50% pada pertengahan kehamilan. Hal ini mencerminkan adanya hemodilusi dan mobilisasi besi dari tempat cadangan untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat akibat kehamilan (Yetti, 2002). Ibu hamil dan bayi yang sedang tumbuh termasuk yang paling rentan menderita defisiensi besi serta harus menyerap zat besi lebih banyak dari pada yang hilang dari tubuh (Litwin, 1998).

Selain besi, kebutuhan folat meningkat sekitar dua kali lipat pada kehamilan dan kadar folat serum turun sampai sekitar separuh kisaran normal dengan penurunan yang kurang dramatis dalam folat eritrosit (Hooffbrand, 2005).

Wintrobe mengemukakan bahwa manifestasi klinis dari anemia defisiensi besi sangat bervariasi, bisa hampir tanpa gejala, bisa juga gejala-gejala penyakit dasarnya yang menonjol, ataupun bisa ditemukan gejala anemia bersama-sama dengan gejala penyakit dasarnya. Gejala-gejala dapat berupa kepala pusing, palpitasi, berkunang-kunang, perubahan jaringan epitel kuku, gangguan sistem neurumuskular, lesu, lemah, lelah, disphagia dan pembesaran kelenjar limpa. Pada umumnya sudah disepakati bahwa bila kadar hemoglobin < 7 gr/dl maka gejala-gejala dan tanda-tanda anemia akan jelas (Helen, 2002).

Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Di samping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah. Dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan abortus, partus imatur/prematur), gangguan proses persalinan (inertia, atonia, partus lama, perdarahan atonis), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infeksi dan stress kurang, produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR, kematian peri¬natal, dan lain-lain) (Manuaba, 1998).


Pengobatan anemia biasanya dengan pemberian tambahan zat besi. Sebagian besar tablet zat besi mengandung ferosulfat, besi glukonat atau suatu polisakarida. Tablet besi akan diserap dengan maksimal jika diminum 30 menit sebelum makan. Biasanya cukup diberikan 1 tablet/hari, kadang diperlukan 2 tablet. Kemampuan usus untuk menyerap zat besi adalah terbatas, karena itu pemberian zat besi dalam dosis yang lebih besar adalah sia-sia dan kemungkinan akan menyebabkan gangguan pencernaan dan sembelit. Zat besi hampir selalu menyebabkan tinja menjadi berwarna hitam, dan ini adalah efek samping yang normal dan tidak berbahaya (Arisman, 2010).

Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapat diperoleh dengan cara mengonsumsi daging (terutama daging merah) seperti sapi. Zat besi juga dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis, kacang polong, serta kacang-kacangan. Perlu diperhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi. Anemia juga bisa dicegah dengan mengatur jarak kehamilan atau kelahiran bayi. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan, akan makin banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin anemis. Jika persediaan cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persediaan Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar jarak antar kehamilan tidak terlalu pendek, minimal lebih dari 2 tahun (Arisman,2010).

Tags

Blog Archive